Recent Comments
Loading...
Recent Comments

Memecahkan Masalah Bersama

18 March 2013

Tolong Menolong

"Memecahkan masalah bersama nggak masalah, asalkan mau berusaha sendiri, sementara Saya dari sini bisa mencoba untuk membantu. Tapi kalau sudah berhubungan dengan penyerahan kekuasaan secara keseluruhan kepada pihak ketiga, bisa dibilang itu membutuhkan sedikit perubahan status diskusi menjadi *ehm* ⇒ Bisnis"
Kalimat itu saya temukan dalam sebuah blog tutorial. Kalau bisa saya simpulkan blog itu adalah kiblat para pencari tutorial blog, karena jika saya mampir di blog tutorial yang lainnya, hampir selalu saya temukan salinan postingan serupa yang berada di sana. Penyajian blog itu sangat berbeda penyajiannya dengan blog tutorial pada umumnya. Jika kebanyakan blog tutorial menyajikan solusi permasalahan yang langsung ke pokok permasalahan, maka blog ini justru memberikan arahan bagaimana permasalahan itu seharusnya dipecahkan, sehingga yang punya masalah tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan solusi itu.

Blog itu bukan sembarang tutorial seperti blog tutorial pada umumnya. Cara penuturannya pun bukan sebatas menyajikan tutorial untuk kemudian diaplikasikan ke blog pribadi kita, tetapi para pencari tutorial itu dituntut untuk bisa mengerti dan tahu sendiri bagaimana tutorial itu diaplikasikan. Begitu pun dengan cara diskusi yang diinginkan si pemilik blog di sana yang disajikan melalui form komentarnya. Si pemilik blog menginginkan agar diskusi yang berjalan di sana tidak hanya sekedar tanya jawab saja atau dengan kata lain kualitas pertanyaan juga harus dipertanyakan. Jadi, jangan berprasangka buruk kalau ada pertanyaan yang diacuhkan begitu saja, karena bisa jadi pertanyaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan postingan yang disajikan atau pertanyaan itu adalah pertanyaan kacangan yang seharusnya bisa ditemukan sendiri jawabannya kalau mau sedikit mendalami apa permasalahan yang dialami sebenarnya.

Menelusuri sebuah forum diskusi itu sebenarnya ada bagusnya juga. Kita jadi tahu permasalahan apa yang sedang didiskusikan, dan kalau beruntung kita bisa menemukan solusi dari diskusi itu, dan kalau tidak beruntung yaa... diskusi itu akhirnya mengambang tanpa solusi yang tidak tertulis. Tetapi terhentinya diskusi itu bukan berarti tidak ada solusi yang disajikan, melainkan solusi itu sebenarnya sudah ada dan tinggal digali dan disimpulkan sendiri solusinya apa. Mengenai kesamaan solusi itu antara yang punya masalah dengan yang tahu solusinya apa bagi saya itu tidak penting. Pemahaman solusi bagi yang punya masalah dari si pemberi solusi adalah bukan urusan si pemberi solusi itu sendiri. Hal ini sudah di luar koridor tugas si pemberi solusi itu. Intinya, setelah sampai di titik ini, kreativitas yang punya masalah dipertaruhkan.

Kembali ke kalimat tadi. Kalimat itu muncul di sela-sela diskusi yang dihadirkan di sana. Mungkin karena si pemilik blog sudah menjelaskan sedemikian rupa dan secara samar tentunya, agar yang punya masalah bisa mengerti sendiri apa permasalahannya dan mendapatkan pencerahan mengenai solusi yang diinginkan. Tetapi yang diinginkan si pemilik blog justru sebaliknya. Di luar dugaan, yang punya masalah justru melontarkan kata "tolong" di tengah-tengah diskusi, hingga muncullah kalimat itu. Sedangkan proses yang sedang dilakukan itu sudah termasuk dalam ranah "tolong-menolong".

Terkadang ada juga orang yang punya masalah merasa geram dengan aturan yang tidak tertulis yang diterapkan oleh si pemilik blog itu. Geram karena merasa tidak dibantu, geram karena merasa permasalahannya diacuhkan. Mungkin bagi si pemilik blog, solusi yang dinginkan sudah ada di sana, atau sudah dibahas pada postingan-postingan sebelumnya. Tinggal cara mencarinya saja yang harus dibenahi. Intinya, sebelum bertanya, yang punya masalah dituntut untuk mengerahkan segenap usaha sendiri untuk menemukan apa yang diinginkan. Jika kita bertanya, dan pertanyaan itu tidak mendapatkan tanggapan, ada baiknya kita jangan langsung berpikiran buruk kepada orang yang ditanya. Mari pertanyakan lebih lanjut, bagaimana kualitas pertanyaan itu, apakah sudah layak untuk dipertanyakan atau belum. Karena bagi orang yang ditanya, ia bisa langsung menilai kualitas pertanyaan itu seperti apa. Ia bisa langsung menilai apakah pertanyaan itu sudah bersimbah peluh, atau sudah melewati berbagai tahap proses pencarian yang tak kunjung ketemu jawabannya atau belum. 

Kembali ke kalimat itu lagi. Kalimat itu bagi saya nendang banget, karena kalimat itu bukan berarti pelit atau tidak mau membantu sama sekali. Meminta bantuan itu sama dengan kondisi belajar makan. Kamu tidak akan bisa makan sendiri kalau terus menerus disuapin. Kamu hanya bisa makan sendiri, ketika yang menyuapin memberitahukan cara menyuapin yang benar. Intinya, ketika kamu ingin kenyang, jangan berharap untuk disuapin terus sama orang yang bisa nyuapin. Mungkin sekali dua kali boleh-boleh saja, tapi kalau sampai keterusan, itu namanya sudah kelewatan alias manjaaa.

Bertanya melalui sebuah forum diskusi itu sudah mewakili sebuah proses lisan dalam mencari sebuah informasi. Bertanya dengan lisan yang biasanya sering kita ajukan untuk memenuhi rasa ingin tahu kita, sekarang bagi para pecandu internet, semua itu akan menjadi nomor 2. Situs pencarian tetap akan menjadi yang pertama sebelum lisan. Saya menyadari hal ini sepenuhnya, karena saya merasakan manfaatnya. Saat ini saya menjadi orang yang skeptis terhadap tata cara bertanya dengan lisan. Ini disebabkan karena jawaban yang saya peroleh terkadang membuat saya merasa tidak puas seperti jawaban 'tidak tahu'. Dan yang lebih bikin nyesek lagi ketika bertanya lisan yakni ketika mendapat jawaban 'googling aja....' Saya sangat tidak suka mendengar jawaban seperti itu, karena yang jawab seperti itu semacam menutupi ketidaktahuan atau kemalasan mereka dalam menjawab sebuah pertanyaan. Kalau tidak tahu, bilang 'tidak tahu' saja, atau kalau malas, bilang 'lagi malas jawab'. Setidaknya jawaban itu tidak mengalihkan kita ke sebuah situs pencarian.

Kalimat di atas juga tidak berarti tidak mau membantu, karena bantu-membantu dengan cara penyerahan kekuasaan penuh, sedangkan yang dibantu hanya tinggal duduk manis menyaksikan dan menunggu hasilnya datang, itu sama saja dengan menyuruh orang lain untuk mewujudkan keinginan kita. MENYURUH dengan MEMINTA BANTUAN itu adalah 2 hal yang berbeda. Sangat tipis sekali perbedaannya. Dan hal yang paling mengenaskan adalah ketika segala usaha tetek bengek jalinan interaksi dalam bantu-membantu itu harus berakhir dengan kata TERIMA KASIH. Kalimat ini terdengar seperti tidak ikhlas, tetapi kalau yang dibantu juga bersikap acuh ketika selesai mengucapkan kalimat ampuh itu, maka masa bodo' juga ah mau ikhlas atau kagak... Urusan penilaian ikhlas atau tidak ikhlas itu ada baiknya kita kembalikan saja kepada-Nya, ke Si Pemilik Ikhlas itu.

Lalu bagaimana cara bertanya yang baik itu sebenarnya? Sepertinya jawaban pertanyaan ini bersifat relatif dan tak mempunyai aturan yang tetap. Aturan itu menurut saya pastinya dibuat secara tidak sadar oleh yang ditanya. Dan buat yang bertanya, pandai-pandailah melihat situasi kapan waktunya untuk bertanya yang baik.

Link Pic: Here

1 comment

Post a Comment

˙˙˙buıɥʇǝɯos ʎɐs