Recent Comments
Loading...
Recent Comments

Live Forever

14 September 2011

Live as if you die tomorrow

Entah sudah berapa kali lagu itu dia putar. Ia senang akan nada musiknya. Ia senang akan liriknya. Ia terhanyut pada salah satu bait dalam liriknya. Ia buat lagu itu menjadi teman seperjalanannya mengangkasa menembus belahan dunia utara yang ditujunya. Tak sadar ia mengasingkan diri dari sekitarnya. Mengacuhkan orang yang lalu lalang di sekitarnya. Mengindakan orang yang berbicara di sekitarnya, seakan obrolan mereka tak pantas untuk didengar. Tapi matanya tak berhenti memperhatikan sekelilingnya, mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh mereka tentangnya. Sesaat ketika lagu itu berhenti, benaknya bergumam, “Apakah aku harus peduli tentang apa yang dipikirkan oleh mereka tentangku? Ah, lebih baik mataku terpejam sesaat daripada melihat tingkah laku mereka”

Maybe I don’t really wanna know
How your garden grows cos I just wanna fly
Lately did you ever feel the pain
In the morning rain as it soaks you to the bone

Menempatkan diri menjadi orang aneh di mata orang-orang di sekitar kita adalah hal yang lucu juga ketika kita sadar tengah melakukannya. Hanya untuk melihat reaksi dari mereka tentang apa yang kita lakukan. Mungkin mereka pikir kita ini aneh, tetapi pada saat yang sama kita pun berpikir kalau mereka pun aneh. Orang-orang aneh sama-sama berpikir tentang keanehan orang lain tanpa pernah menyadari keanehan diri mereka masing-masing.

Tak sadar karena pengaruh lagu itu, ia mencoba berpikir, entah apa yang dirasakan penulisnya ketika menuliskan lirik lagu itu. Pikirannya pun melayang tak karuan, tak mampu berkhayal lebih lanjut menjangkau apa yang belum disaksikannya tentang penulisnya. Ingatannya pun sampai pada satu video klip yang pernah disaksikannya di layar kaca. Bukan… bukan video klip lagu yang sedang didengarkannya saat ini. Justru ia baru berkenalan dengan lagu yang didengarkannya saat ini. Ia memang mengagumi beberapa lagu dari band penyanyinya. Tak cuma enak untuk didengar, tetapi dari segi penulisan liriknya pun bukan hanya sekedar lirik yang bercerita tentang cerita yang umum seperti lagu-lagu kebanyakan saat ini. Sebelum ini pun, ia pernah membaca sebuah tulisan tentang lagu yang didengarnya saat ini, live forever! how the british music shaped my life. Tetapi, ia tak pernah menggubrisnya sama sekali. Ia hanya kagum sama band yang menyanyikannya. Tak pernah peduli dengan lagu yang dibahas di tulisan itu. Tak pernah tahu lagunya seperti apa dan liriknya seperti apa. Tetapi tempat di mana ia berada sekarang ini, kebetulan merupakan salah satu lagu pada playlistnya untuk dinikmati hanya untuk sekedar melupakan lamanya perjalanan yang akan ditempuh.

Maybe I just wanna fly
Wanna live don’t wanna die
Maybe I just wanna breath
Maybe I just don’t believe
Maybe you’re the same as me
We see things they’ll never see 
You and I are gonna live forever

Sebuah pengeras suara lengkap dengan tiangnya berdiri kokoh di depannya dengan posisi lebih tinggi dari mulutnya. Kepalanya mendongak mencoba meraih ujung pengeras suara itu dengan mulutnya. Ia mencoba menyesuaikan tarikan napas yang dipakai untuk meneriakkan lirik yang diminta oleh nada-nada musik yang mengiringinya. Kedua tangannya terkepal di belakang tulang ekornya. Ia mengenakan sebuah kacamata hitam melindungi tatapan matanya. Namun, sesekali kamera yang mengambil gambarnya mampu menembus gelapnya kaca mata yang dikenakannya itu. Tatapan mata itu terlihat lesuh seakan semalam sebelumnya ia habis menenggak bergelas-gelas minuman keras. Ekspresinya kaku menyiratkan sebuah keangkuhan. Sorak-sorai ratusan bahkan ribuan penonton di depannya seakan tak dihiraukan olehnya. Ia terus melantunkan lirik demi lirik dari awal hingga akhir penuh penghayatan.

"Sir, do you want to drink something??" Terdengar suara merdu di sampingnya memecahkan lamunannya tentang video klip yang pernah disaksikannya.

"Oh yeah, give me a tea, please..." ia pun memesan segelas teh kepada orang yang menawarinya itu.

Entah kenapa ia lebih memilih teh daripada kopi atau jus maupun air putih sebagai santapannya. Pikirannya pun kembali ke masa kecilnya sewaktu ia masih tinggal bersama neneknya. Ia ingat tiap pagi dan sore sang nenek sering menyuguhkan teh di rumahnya. Tak ada makanan pelengkap dalam suguhan itu. Hanya teh. Dan bagi mereka yang lapar pada saat itu, mereka dipersilahkan untuk melayani diri sendiri masing-masing. Namun, sang nenek tak pernah berdiam diri melihat gelagat orang kelaparan di sekitarnya, dan dengan sigap membantu menyiapkan apa yang kita butuhkan. Ah… kenangan, sungguh indah jika membayangkannya. Tak pernah berhenti menyiratkan satu pembelajaran ketika mengingatnya. Ia juga teringat tentang kisah dalam novel Three Cup of Tea. Bagaimana filosofi suguhan tiga cangkir teh, bisa mengubah mereka yang merasa asing satu sama lain menjadi sebuah ikatan persaudaraan di antara mereka. Ia tak pernah lupa akan kisah itu, tentang budaya bagaimana memperlakukan orang lain yang kita tidak kenal sama sekali.

Lagu itu kembali ia putar. Dengan bantuan sebuah headset, ia mendengarkan dengan seksama lagu itu. Kepalanya sesekali bergerak mengikuti irama musiknya. Sesekali bibirnya terkatup mengikuti lirik lagunya.

Maybe I will never be
All the things that I wanna be
But now is not the time to cry
Now’s the time to find out why
I think you’re the same as me
We see things they’ll never see
You and I are gonna live forever

Ketika ia sedang asyik menikmati hentakan musiknya, pikirannya pun kembali mengembara mempertanyakan sesuatu. Mungkinkah aku termasuk salah satu dari mereka yang diceritakan dalam lirik itu? Yang selalu gelisah dengan napas yang dihirupnya. Mempertanyakan kehidupan yang dilaluinya hanya untuk sekedar tahu, ataupun menyaksikan kehidupan sekitarnya hanya untuk sekedar tahu dan merasakan tapi tak bisa berbuat sama sekali selain bersimpati dan bersimpati. Mungkin mereka sama dengan dirinya, melihat sesuatu yang mereka tidak melihatnya karena kita semuanya akan hidup selamanya (gonna live forever). Ia pun teringat akan sebuah ungkapan bahwa, “We can question life, but can life question us?” Entahlahh, benaknya bersenandung, "Maybe I just wanna fly, wanna life don’t wanna die. Maybe I just wanna breath. Maybe I will never be all the things that I wanna be".

Terdengar teriakan suara "gonna live forever" dari sang vokalis mengalun berulang kali. Ada unsur kebrutalan dalam serak suaranya. Sebuah keinginan mau lepas dari sebuah kekangan dan kungkungan. Mungkin?? Tetapi menghadapinya saat itu bukan dengan sebuah ratapan cengeng yang bisa mengundang iba dari orang-orang di sekitarnya. Sekarang waktunya mencari tahu kenapa. Bagi yang suka menertawakan orang-orang seperti ini, ia bilang bahwa mereka cuma ingin hidup, tak lebih dan tak kurang. Hidup dengan penuh makna tentunya, karena menurutnya live forever hanyalah sesuatu yang mustahil di dunia ini secara arti kata-nya. Sepertinya live forever lebih senang ia terjemahkan sebagai survive, bertahan hidup. Karena bertahan hidup adalah sesuatu yang lumrah yang dihadapi manusia dalam mengarungi umurnya di dunia ini. Itu yang kita lakukan ketika kita masih mau bernapas. Mau tidak mau, manusia akan melakukan hal ini dengan cara apapun. Ada yang memilih jalan yang halal dengan berusaha melakukan hal-hal yang diperbolehkan agama, dan ada pula yang menyimpang menghalalkan segala cara untuk hidup dan bertahan hidup. Tetapi seberapa banyak manusia yang menyadari hal ini? adakah orang yang benar-benar bisa mengistirahatkan pikirannya sejenak dan merenungi tentang apa yang telah dilakukannya tak lebih dari sekedar hidup dan bertahan hidup?

"Sir…sir…sir…" sebuah tepukan dipundaknya dan suara merdu yang terdengar sebelumnya membangunkannya dari tidur sesaat yang dialaminya.

"Please fasten your seatbelt, sir.." kata suara itu lagi, ketika matanya mulai membuka dan tersadar bahwa ia sedang berada dalam kubah burung besi.

Sambil mengikuti perintah suara itu, ia bertanya kepada pemilik suara itu, "Whats happen?"

"Please just fasten your seatbelt, sir….", ada penekanan dalam suara itu. Ada sesuatu yang disembunyikannya, tapi apa??

"Can I get some water, please?" tanyanya lagi.

"Sir….. Just fasten your seatbelt....!!!", nada suara itu semakin tinggi menegaskan suatu kepanikan yang sedang terjadi tapi entah apa.

"Oh God….Am I just dreaming? Just wake me up from this nightmare…"

Maybe I just wanna fly
Wanna live don’t wanna die
Maybe I just wanna breath
Maybe I just don’t believe

Dan, live forever-nya Oasis pun masih tetap mengalun kencang, membahasakan hidup dan misterinya dalam liriknya.

....WE CAN QUESTION LIFE, BUT CAN LIFE QUESTION US?....
Quote Taken From: Belok Kiri Barcelona

Source Pic: Random Taken From Google

6 comments

Reply Delete

cantiiiiiiikk,  liriknya indah yaa.. kok dhe baru tahu?? ternyata sam pintar merangkai cerita, sekali2 mbok yaa ikutan giveaway gitu menyalurkan bakat.. :D

btw, kok gk bilang2 sam udah pake disqus, kalo gini dhe bisa komen, hehe..

Reply Delete

ahha... cerita hidupmu selalu indah, takjub...
Mari dengarkan alunan musik kehidupan bersama, agar hidup lebih hidup, semangat..

Reply Delete

Bercerita tentang kehidupan memang tiada batas. Semua orang beda pendapat dan menjalani hidup itu berbeda. Nice posting. Membuka cakrawala pikiran :)

Reply Delete

Indah yaaa??? :D lagunya juga lagu lama, tahun 94 kalo ga salah.. hehehe... kapan-kapan lah ikutan event giveaway gitu seperti dhe yang sering ikutan mencari peruntungan.. hahahah....

Wahh... kok baru tau sih?? nah looo, ketahuan nih jarang main ke sini.. hahaha

Reply Delete

Ahhh... takjub kang??? biasa aja ahhh... hahaha

Reply Delete

itulah salah satu sisi keunikan dari kehidupan menurutku, karena kit apunya persepsi masing-masing tentang hidup, tentang cara menjalaninya dan tentang cara menceritakannya... So let's the story begin... :)

Post a Comment

˙˙˙buıɥʇǝɯos ʎɐs