Recent Comments
Loading...
Recent Comments

Analogi Pohon Pada "Waktu Yang Tak Terjangkau"

25 August 2013


Bagai daun yang kering, ia mungkin terjatuh dari dahan di mana ia seharusnya berada. Bukan karena musim yang membuatnya seperti itu, tetapi lebih karena satu keyakinan bahwa memang sudah waktunya untuk terlepas dari tempat di mana dahulu ia berada. Ia harus digantikan oleh yang lebih segar, yang lebih hijau agar dahan itu bisa menandakan bahwa akarnya masih tetap berdenyut, agar batangnya masih tegap berusaha mencakar langit biru, dan yang lebih penting lagi agar satu kesatuan pohon bisa tetap tegar menghadang derasnya hembusan angin dan tetap berdiri oleh hirupan udara yang lebih banyak telah terkontaminasi oleh racun-racun yang tak kasat mata.

Lihatlah di mana ia berdiri menancapkan akarnya. Ia adalah bagian yang pedih dari sebuah kesatuan. Tak terlihat, menusuk, menghujam dan menjalar ke dalam tanah. Namun sedalam atau sejauh apapun ia menjelajah, mata tak akan pernah peduli bagaimana ia menopang semuanya. Semua tingkahnya hanya hadir dalam sebuah imajinasi. Ia cuma berharap bagaimana caranya agar daun di atas sana bisa berkibar anggun dengan riang. Indra penglihatan mungkin hanya peduli pada hijau hijau dan hijau yang ditampakkan oleh sebuah pepohonan.

Kau sudah mengetahui kalau yang hijau selalu terlihat lebih segar, lebih sejuk bahkan lebih indah dari apapun jika kau menyaksikan ataupun membayangkan wujudnya. Tetapi ketika kehijauan itu berubah warna karena waktu, kenikmatan yang disajikannya menjadi sirna seketika. Perubahan warna itu seakan menandakan bahwa sudah saatnya ia tergantikan oleh bentuk yang baru, yang sama seperti sebelumnya, tetapi dengan wujud yang berbeda.

Satu per satu daun itu terlepas dari dahannya, melayang di udara untuk kemudian mencari tempat perhentian terakhirnya di atas tanah. Pada satu waktu, reruntuhan dedaunan itu akan menutupi tanah, mengotorinya seperti kata benak kita yang terlalu sensitif akan sebuah kebersihan. Tanah yang khas dengan warnanya adalah tempat berpijak bagi siapapun, tetapi serakan dedaunan itu banyak yang menganggapnya sebagai sampah yang tak pernah berguna lagi. Ya, sampah yang hanya akan menjadi penghalang bagi kita untuk melanjutkan langkah di atas tempat berpijak itu.

Ketika kau berkata sampah, adakah kau pernah mengingat kalau sebelumnya ia adalah bagian dari keberlangsungan kehidupan? Karenanya kau masih menghirup udara yang segar tanpa membuatmu  sesak. Karenanya kau masih bisa berteduh dibaliknya dari sengatan matahari siang hari. Dan karenanya kau masih bisa mendengar sahutan merdu dari burung-burung yang hinggap di dahannya.

Sayangnya ingatan itu tak pernah mengenal belas kasihan. Ingatan itu hanya sebongkah waktu yang tak bisa terjangkau lagi, yang bisa membuatmu tak berdaya untuk mengembalikan semuanya pada apa yang sudah meranggas menjejak pada tanah. Sekuat apapun kau berharap, kau cuma bisa menghadirkannya untuk mengenangnya. Itu saja untuk selanjutnya kau sebut 'indah' apabila sangat berarti bagimu atau untuk kau caci apabila kau merasa dirugikan olehnya. Penilaian seperti itu adalah hal yang lumrah karena bongkahan ingatan itu telah hinggap mengambil tempat pada satu sisi ruang semu pada dirimu.

Untuk menampilkan pijakan langkah yang bersih, maka seperti serakan dedaunan itu, ketika kau menyebutnya 'indah', kau akan berharap agar angin datang meniupkan semuanya, menerbangkan semuanya pada satu tempat yang bisa menyimpan segalanya dengan indah.

Untuk menampilkan pijakan langkah yang bersih, maka seperti serakan dedaunan itu, ketika kau memutuskan untuk mencacinya, kau mungkin akan mengharapkan sengatan panas sang surya yang datang memercikkan api karena panasnya, untuk kemudian membakar serakan daun yang kau sebut sampah itu, yang pada akhirnya akan melalap habis satu kesatuan pohon tadi, dan berharap semuanya musnah tak bersisa.

Seperti sedia kala, setelah semuanya lenyap, maka saatnya untuk memulai kembali dengan bermimpi dan berusaha untuk menumbuhkan pohon-pohon ingatan yang lebih baik, yang mungkin akan mempunyai cabang-cabang yang lebih banyak, dengan dahan-dahan yang kokoh beserta dedaunan yang selalu terlihat hijau dan tak pernah lekang oleh waktu.

9 comments

Reply Delete

Filosofis sekali.
Hrs ada regenerasi ya.
Blognya makin keren (sementara blog saya masih begitu2 saja :|)
Sudah lama saya gak main ke mari ya.
Melihat postingan ini di reading list mengingatkan saya dengan istilah "psikolog abal2" (setahun atau 2 tahun lalu ya itu? :D). Masih ingat kan? (tapi jangan salah ingat ya hehe)

Reply Delete

pohon memang selalu punya jasa terhadap kelangsungan hidup manusia. tanpa pohon, manusia belum bisa membuat oksigen untuk mereka bernafas. dan belum ada alat yg mempu mengurai racun karbon dioksida hasil pembakaran nafas manusia, selain daun hijau.

Reply Delete

Regenerasi dalam tanda kutip bisa saja mbak...

Si "psikolog abal2", entah bagaimana kabar beliau. Kalau tidak salah sudah mau 2 tahun gak ada kontak lagi sama beliau... :D

Reply Delete

Terima kasih atas infonya mas tentang racun-racun yang tak kasat mata itu...

Reply Delete

wow saya suka postingan ini, serasa membaca alam ya

Reply Delete

salam kenal juga, ya terima kasih buat share-nya ya

Reply Delete

Foto nya pas pertama lihat kirain gunung yang lagi meletus. Hehehe..
Aku termasuk penyuka pohon yang daunnya lagi rontok. Berasa dramatis gitu... Pohon, tapi kering. Namun bukan berarti udah gak boleh disebut pohon kan?

Post a Comment

˙˙˙buıɥʇǝɯos ʎɐs