Recent Comments
Loading...
Recent Comments

Saat Rehat Dari Terik Siang Hari

20 June 2011


Hari masih siang saat sang surya masih berjaya pancarkan sinarnya ke bumi. Panasnya membakar semua tempat di daerah ini. Walaupun aku berteduh, aku pun masih terkena dampak panasnya. Hembusan angin yang bertiup tidak mampu redakan panas yang kurasakan.

Aku terduduk mencoba mengembalikan ritme napas yang sedari tadi menderu cepat, menghilangkan penat yang ditimbulkan olehnya, menguapkan peluh yang mengucur deras. Di suatu tempat, berlindung dari sengatan sinar matahari, pandangan mataku memaksa pikiranku untuk bercengkrama, merangkai kata-katanya dalam lamunan. Inikah yang disebut dengan lamunan? Ada alam raya yang terbentang di hadapanku, sebuah landscape jalan yang belum jadi dengan ladang luas beserta bentangan langit biru di atasnya sejauh mata memandang. Menoleh ke atas, langit itu berhiaskan awan putih yang berarak tak berarah dihempaskan oleh derasnya kecepatan angin di sana.

Aku mencoba menghibur diri dari sengatan matahari siang itu dengan mencoba membahasakan alam saat itu dan mencoba bermimpi tentang tempat indah, di mana aku bisa dengan tenang menghirup udara segarnya tiap hari. Tempat di mana aku bisa mendengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan di pagi hari, mendengar kicauan burung yang berdendang di siang hari, serta suara jangkrik yang melengking di malam hari. Tempat di mana sungai mengalirkan air beningnya, menperdengarkan gemericiknya pada bebatuan di sekitarnya, tanpa ada limbah, sampah maupun kotoran. Keindahannya melampaui kemampuanku untuk memikirkan sesuatu. Mungkin tak terbatas kata bisa mendeskripsikannya, namun aku tak mampu. Aku hanya bisa terdiam setelah satu kalimat.

Panas yang kurasakan membuyarkan semuanya. Aku tak bisa menyaksikan matahari siang itu, kapasitas cahayanya terlalu kuat. Lain halnya ketika fajar menyingsing di pagi hari maupun ketika senja tiba di sore hari saat waktunya matahari mulai tenggelam. Tetapi, ada sebuah tulisan yang menggelitik pikiranku, bahwa semua yang kita saksikan tentang matahari itu adalah yang telah lalu. Kita tak benar-benar menyaksikan matahari pada saat itu juga saat memandangnya. Dengan mengandalkan analogi kecepatan cahaya 300 ribu kilometer per detik dan jarak bumi ke matahari sekitar sejauh 150 juta kilometer, kesimpulan itu lahir. Sinarnya baru sampai ke bumi sekitar delapan menit menurut perhitungan itu. Jadi, ketika matahari terbenam di ufuk barat sana, yang kita saksikan itu bukan matahari, tetapi sinarnya delapan menit lebih sedikit yang lalu. Pun ketika fajar, yang kita lihat itu bukan matahari, matahari telah bergerak delapan menit yang lalu. Hanya yang lalu yang kita saksikan. Manusia hanya bisa menelaah cahaya sebatas yang lalu, tak lebih.

Entahlah, terlepas dari benar tidaknya teori itu, hal itu mengalami pembenaran dalam logikaku. Kebenaran itu hanya ada pada-Mu ya Allah. Cahaya...cahaya... Aku ingat, Engkau sering menganalogikan diri-Mu dengan cahaya. Seperti matahari, tak terlihat, namun dia bisa menyinari semua isi alam semesta. Seperti cahaya, yang bisa dilihat dan tak bisa diraba. Karena cahaya, aku bisa menggunakan karunia mata yang Engkau berikan untuk melihat. Karena cahaya, aku bisa melangkahkan kaki mengikuti gerak waktu. Karena cahaya, aku bisa berpikir tentang jagad raya ciptaan-Mu. Dan karena cahaya, Engkau bimbing manusia ke jalan-Mu.

Syukurku pada-Mu tak terkira atas semua ini. Misteri-Mu selalu hadir dalam tiap napasku. Sujudku pada-Mu tiada arti bagi-Mu. Ciptaan-Mu buatku merasa kecil. Ilmu-Mu benamkan sombongku dalam ketidaktahuanku.

Ah... aku harus bergegas. Sepertinya letih telah mereda, peluh telah menguap dan ritme napas pun mulai bisa terkendali. Terlalu lama berdiam diri berarti terlalu lama tak sadarkan diri. Aku harus kembali ke keberadaanku.

10 comments

Reply Delete

nice post bang Sam Chua' :D

menyimak bait ini, aku terhenyak sejenak:

Aku mencoba menghibur diri dari sengatan matahari siang itu dengan mencoba membahasakan alam saat itu dan mencoba bermimpi tentang tempat indah, di mana aku bisa dengan tenang menghirup udara segarnya tiap hari. Tempat di mana aku bisa mendengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan di pagi hari, mendengar kicauan burung yang berdendang di siang hari, serta suara jangkrik yang melengking di malam hari. Tempat di mana sungai mengalirkan air beningnya, menperdengarkan gemericiknya pada bebatuan di sekitarnya, tanpa ada limbah, sampah maupun kotoran. Keindahannya melampaui kemampuanku untuk memikirkan sesuatu. Mungkin tak terbatas kata bisa mendeskripsikannya, namun aku tak mampu, Aku hanya bisa terdiam setelah satu kalimat.

sepertinya aku tahu pasti tempat itu.. mungkinkah itu kampung halamanmu??*sok tau* :D

mungkinkah seseorang tengah rindukan kampung halamannya?? Bersabarlah kawan, anggaplah ini jihadmu untuk keluargamu, mereka yang menunggumu .... *sokmenasehati* :D
setiap cucuran keringat itu, pasti kan terganti dengan SENYUMAN!! Pastiiiii...hanya masalah waktu..jdikan waktu sbagai temanmu, bukan musuh!!!jgn resah terhadap waktu ^^

*komenku kali ini panjang sekaliiiiii* :D

Reply Delete

*ckckcck...jujur mas..tiap buka sang hening..aku harus menutup tab lainnya..bukan..bukan karena takut lepiku tersendat..melainkan krn aku harus menajamkan imagiku utk membaca jejakmu...

Selalu menyenangkan..sebuah rehat tetaplah mnjadi bagian penting dlm siklus kehidupan. Sprti hening yg juga mrpkan bagian dr musik. Rehatmu telah mmbahasakan sang terik, dan kau pasti makin menyadari..mengapa matahari tak pernah sendri meski ia tampak menyengat..

Reply Delete

Wah... untaian kata2mu begitu indah mas. salut gue.. salam bloger^_^

Reply Delete

hahaha . . . rendah hati aja mas... ckckck^_^

Reply Delete

Wuissshhh... panjang bangettt komennya, seperti dinasehati oleh sang guru kehidupan. Terima kasih kawan sudah mengingatkan... :)

hahaha...tapi rasa sok taunya itu..:)), kampung halamanku tidak se-perfect itu, tapi aku tetap merindukannya... :D

Reply Delete

waduhh.. kok bisa sampai segitunya heningku memperlakukanmu :D , padahal jejakku hanyalah jejak biasa yang apa adanya aja... Memang selalu menyenangkan rehat itu, apalagi kalo berpikir bahwa tak ada sesuatu yang sia-sia ketika memikirkannya apalagi sampai bisa menuliskannya :)

Reply Delete

terima kasih kawan atas pujiannya, semoga tidak membuatku merasa tinggi hati mendengarnya.. :)

Reply Delete

tersenyum yuukkk dalam hening.. :)

Post a Comment

˙˙˙buıɥʇǝɯos ʎɐs